Wednesday, March 30, 2005

Sulitnya menghafal qur'an...

Ikhwah Fillah, Saudaraku Seiman… Dalam usaha mengeksplorasi qur’an, dapat ktia perhatikan suatu kecenderungan dalam kalam Rab kita, Al Qur’an. Yaitu, jika dipandang dari sisi kemanusian kita, Alqur’an itu telah dirancang untuk sulit dihafal. Teman2 yang sudah terbiasa tahfidz qur’an mungkin bisa cepat memahami hal ini. Sebagai contoh, dalam kisah nabi Musa AS. Dalam surat Al-A’raf:141, Allah menggunakan kata ”Membunuh” (nuqattilu:asal katanya qattala) untuk mengisahkan kezaliman Fir’aun pada anak laki bani Israil. Hal serupa juga dapat kita lihat pada ayat lain, misalnya di surat yang sama pada ayat 127. Tapi pada ayat lain, Al-Baqarah:49, Allah menggunakan kata ”menyembelih” (Yuzabbihuuna:asal kata zabbaha). Begitu juga dengan ayat dalam kisah dialog Allah dengan malaikat tatkala Allah menciptakan manusia. Dalam Al-Baqarah Allah menggunakan kata ”menjadikan” (jaailun). Tapi di ayat lain (Al-Hijr), Dia menggunakan kata ”menciptakan” (Khaliqun). Dan sungguh banyak lagi ayat2 semisal di atas kita temukan dalam qur’an, penggunakan kata yang berbeda untuk menceritakan kisah yang sama. Akibatnya, seorang penghafal sulit menebak kata dalam qur’an, walaupun ia menghafal ayat yang alur ceritanya sama dengan ayat pada surat lain. Begitu juga, akan kita temukan penggunakan kata untuk sifat Allah yang sulit ditebak keteraturannya. Dalam suatu ayat Allah menggunakan kata ”maha pengampun lagi maha pengasih”.(Ghafuurrahiim) Tapi di ayat lain digunakan kata ”maha pengampung lagi maha penyantun” (Ghafuurun Halim). Begitu juga, akan kita temukan penggunakan kata sambung untuk menyambung 2 buah kalimat atau kata. Kadang menggunakan ”dan”(wa), ” atau”(am atau au) malah ada yang juga yang tidak pake kata sambung sama sekali. Banyak lagi fakta yang bisa dilihat pada qur’an yang darinya bisa disimpulkan (setidaknya sy yang berijtihad begitu), bahwa sulit mendapatkan pola (pattern) dari kalimat2 pada qur’an untuk mempermudah kita dalam menghafalnya. Seperti yang kita tahu bersama, pola yang teratur akan mempermudah dalam menghafal. Inilah yang terasakan, setelah cukup lama beriterkasi dengan qur’an. Tapi setelah dicoba ditafakkuri fakta ini, kiranya ada suatu hikmah besar yang didapatkan. Bahwa kesulitan yang ada itu ditujukan untuk memisahkan antara mereka yang muslim dan kafir. Dan dalam kelompok kaum muslimpun akan dipisahkan juga antara yang mau bermujahadah dan sabar dengan yg tidak. Cobalah tafakurilah, apa sulitnya bagi Allah untuk membuat pola yang sama dalam penggunaan kata yang menceritakan kisah yang sama. Tapi andai itu terjadi, pola penggunaan kata qur’an akan mudah dipahami, yang karenanya tentu akan mudah saja bagi setiap orang untuk menghafalnya. Jika sudah begitu, maka akan sulit terbedakan antara yang mujahadah-sabar dan yg tidak. Dan yang lebih fatal lagi, orang2 kafir akan sangat senang, sebab kemudahan mereka menghafal qur’an akan mereka gunakan untuk membuat ’senjata makan tuan’ bagi kaum muslimin. Dengan mudah mereka akan akan memutatbalikkan fakta qur’an dan mengelabui orang2 yang memang mudah dikelabui di antara kita. Ya, kesulitan yang muncul akibat fakta tadi, akan melunturkan semangat orang2 ’biasa’ untuk menghafal qur’an, apalagi orang2 kafir. Bahkan tentunya mereka akan berfikir lain, mengapa harus menghafal qur’an, toh masih banyak hal lain yang harus dilakukan. Toh sudah banyak mushaf yang bisa dibaca. Itu semua, tanpa mereka fikirkan betapa indahnya qur’an tatkala ia telah menjadi renungan hati, bagian khayalan jiwa, cerminan akhlak dan rujukan amalan diri. Dan ini semua hanya bisa terwujud kala qur’an ada dalam hati, dari qur’an yang selalu mereka bawa, karena telah hafal qur’an secara mutkin. Tapi justru inilah yang yg namanya ujian. Ujian yang berkualitas, akan benar2 bisa membedakan antar peserta yang berkualitas dengan yg cuma malas-malasan, tidak punya daya juang. Menghafal qur’an pun begitu. Ia memang terasa sulit bagi sebagian orang. Tapi bagi sebagian yang lain, justru kesulitan ini menjadi alasan bagi mujahadah dan sabar mereka! Ya, kesulitan yang diubah menjadi tantangan hebat yang harus ditaklukkan. Penaklukan demi suatu tujuan, tujuan akhir setiap orang yang berakal jernih, berfikiran jauh ke depan: perjumpaan dengan-Nya.

No comments: